Secuil Ungkapan Jawa

Juli 8, 2011 pukul 4:56 am | Ditulis dalam Kejawen | Tinggalkan komentar

Beberapa Ungkapan Jawa :

 

“Ngelmu iku kalakone kanthi laku” (bila ingin pandai harus belajar). Ini

berarti bahwa bila ingin pandai, seorang anak didik dalam keluarga harus

belajar keras. Hal ini dapat disamakan dengan ungkapan “Jer basuki mawa

beya” (keberhasilan seseorang diperoleh dengan pengorbanan).

 

“Nulodho laku utomo” (mencontoh perbuatan yang baik). Ini berarti semua

anggota keluarga harus mencontoh pada perbuatan yang utama dan yang baik.

 

“Ngono ya ngono, ning aja ngono” (demikian ya demikian, tetapi jangan

demikian). Ini berarti berbuat boleh, berbicara boleh juga, tetapi jangan

sampai menyakiti hati dan perasaan orang lain. Atau dalam berbuat jangan

melewati wewenangnya. Ungkapan ini untuk mengendalikan diri, jangan berbuat

melebihi wewenangnya dan jika berbicara jangan orang lain tersinggung.

 

“Aja NGgugu karepe dewe” (jangan berbuat sekehendak sendiri). Atau “Aja

nuhoni benere dewe” (jangan merasa benar sendiri). Atau “Aja mburu menange

dewe” (jangan mengejar/merasa menang sendiri). Ungkapan tersebut di atas

sifatnya memperingatkan dalam keluarga atau lebih luas dalam masyarakat

agar jangan menganggap dirinya yang paling benar, dalam tingkah laku,

kepandaian dan kebijakan, pendapatdan lain sebagainya.

 

“Mikul dhuwur mendhem jero” (memikul tinggi menanam dalam). Artinya orang

yang senantiasa bertanggungjawab kepada keluarga dengan membawa nama baik

keluarga atau orang tua. Dengan menjunjung derajat orang tua si anak akan

harum namanya.

 

“Kacang mangsa ninggal lanjaran” (kacang tidang mungkin meninggalkan

jalur). Maksudnya, watak dan tingkah laku anak biasanya mirip dengan

tingkah laku orang tua. Ini berarti bahwa orang tua harus yang baik kepada

anak-anaknya agar anak-anaknya selalu merasa nyaman dalam kehidupan

keluarga.

 

“Kaya mimi lan mintuno” (seperti sepasang ikan mimi dan mintuna). Artinya

kasih sayang ayah dan ibu, tidak bercerai-berai atau tidak dapat diceraikan

dan selalu rukun. Kasih sayang ibu dan ayah, dapat digeser ke kasih sayang

adik-kakak, orang tua-anak dan sebaliknya anak harus hormat kepada orang

tua dan berbakti agar dalam keluarga tidak terjadi pertengkaran.

 

“Wong bodho dadi pangane wong pinter” (orang yang bodoh menjadi objek

rejeki orang yang pinter). Ungkapan ini menggambarkan perubahan dalam

idealisme dan cara pendidikan keluarga yang berlainan. Dalam keadaan

sekarang generasi muda harus rajin belajar, menjadi orang yang pandai untu

kesuksesan hidupnya.

 

sumber : http://sunjoyohadiwinoto.blogdetik.com/

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: